Wednesday, January 11, 2012

Kesabaran 16 Tahun Berbuah Monster Di Jantung Bima Sakti

Setelah melakukan studi panjang selama 16 tahun menggunakan teleskop milik ESO, tim astronom dari Jerman berhasil memperlihatkan kondisi paling detil yang pernah ada dari area di sekitar jantung galaksi Bima Sakti – area dari monster menakutkan si lubang hitam supermasif.

Area pusat galaksi Bima Sakti. Kredit : ESO

Penelitian ini mengungkap rahasia yang tersimpan di area tersebut melalui pemetaan orbit 28 bintang. Bahkan satu bintang di antaranya telah berhasil melakukan putaran penuh mengelilingi lubang hitam.

Pengamatan gerak 28 bintang yang mengorbit area pusat galaksi Bima Sakti, menunjukan keberadaan lubang hitam supermasif yang tengah mengintip kita dari balik debu antar bintang. Ia dikenal sebagai Sagittarius A (atau dikenal sebagai bintang Sagittarius A). Berbagai informasi termasuk bentuk istimewa bintang-bintang tersebut dan juga lubang hitam yang mengikat mereka berhasil dikuak.

Pusat galaksi merupakan laboratorium yang unik dimana kita bisa belajar proses-proses dasar gravitasi yang besar dan kuat, serta dinamika dan pembentukan bintang yang memiliki keterkaitan yang sangat besar dengan inti galaksi. Disinilah pabrik kelahiran bintang dan tempat berlabuh sang monseter menakutkan, lubang hitam supermasif. DI area ini jugalah kita bisa mempelajari lubang hitam dengan lebih mendetil.

Tapi untuk mengamati area ini tidaklah mudah. Pengamatan dalam panjang gelombang tampak tidak dapat menembus blokade yang dibuat oleh debu antar bintang yang mengisi galaksi. Pandangan kita ke jantung sang galaksi ini terhalang. Kemampuan teknologi menjadi tantangan untuk dapat mengintip apa yang terjadi di sana. Untuk itu, digunakanlah panjang gelombang infra merah untuk menembus blokade debu antar bintang tersebut. Dan bintang-bintang di area pusat galaksi kemudian dijadikan partikel penguji untuk mengungkap apa yang ada di sana. Bintang-bintang itu diamati geraknya selama mengorbit Sagittarius A.

Hasil yang diperoleh sangat berguna untuk memahami lubang hitam itu sendiri contohnya dalam hal massa dan jarak. Dan tampaknya 95% massa yang mempengaruhi gerak bintang tersebut adalah lubang hitam. Karena itu, kecil kemungkinan penyebabnya adalah karena materi kelam lain. Tak pelak, hasil ini menjadi bukti empirik keberadaan lubang hitam supermasif, yang diperlihatkan oleh bintang yang megorbit pusat galaksi. Dalam pengamatan, diketahui adanya konsentrasi massa yang besar sekitar 4 juta massa Matahari yang diyakini sebagai lubang hitam yang berada pada jarak 27000 tahun cahaya.

Dari ke-28 bintang yang diamati, 6 di antaranya mengorbit lubang hitam dalam sebuah piringan dan bintang-bintang pada area paling dalam memiliki orbit acak. Bintang S2 menjadi satu-satunya bintang yang berhasil mengelilingi pusat Bima Sakti periode 16 tahun tersebut.

Untuk membangun citra jantung Bima Sakti dan menghitung orbit bintang individu, tim ini mempelajari bintang-bintang tersebut selama 16 tahun, dimulai pada tahun 1992 menggunakan kamera SHARP yang dipasang di New Technology Telescope 3,5 meter milik ESO di Observatorium La Silla, Chille. Observasi lainnya dibuat pada tahun 2002 dengan 2 instrumen yang ada di Very Large Telescope (VLT).

Walau penelitian ini berhasil membuka lembaran baru bagi pembelajaran lubang hitam dan kondisi area pusat galaksi dalam tingkat akurasi yang tinggi, namun masih banyak misteri yang belum terkuak di sana. Apalagi bintang-bintang tersebut juga masih sangat muda untuk melakukan perjalanan jauh. Diduga, bintang-bintang ini terbentuk pada orbitnya saat ini dibawah pengaruh gaya pasang surut lubang hitam.
Di masa depan, berbagai rancangan penelitian lanjutan akan dilakukan untuk mengintip monster di jantung Bima Sakti itu. Salah satunya dengan menggunakan teknologi dengan resolusi sudut yang lebih tinggi.

Sumber : ESO

Saturday, January 7, 2012

Bintang Yang Super Cepat Ternyata Bukan Anggota Bima Sakti

Bintang deret utama kelas B umumnya langka dijumpai berada jauh dari bidang Galaksi. Bintang-bintang ini diyakini sebagai “bintang pelarian” yang terlontar dari bidang Galaksi usai terbentuk.


Bintang B yang kecepatannya melampaui kecepatan-lepas Galaksi belum pernah dijumpai, hingga pada tahun 2005 dilaporkan bintang dengan kecepatan yang sangat tinggi (hyper velocity star atau HVS), yakni bintang SDSS J090745.0+024507. Bintang HVS pertama ini oleh penemunya, Brown, diperkirakan terlempar dari pusat Galaksi Bima Sakti, galaksi yang kita huni.

Bintang HVS kedua adalah HE 0437-5439 yang dilaporkan oleh Edelmann dan kawan-kawan pada tahun yang sama. Meskipun demikian, fenomena HVS ini masih mengundang pertanyaan: dari manakah asal-usulnya?
Menurut prediksi yang dikemukakan Hill, kecepatan setinggi 4000 km per detik bisa diraih ketika suatu bintang ganda terganggu saat berinteraksi dengan lubang hitam yang masif di pusat Galaksi. Yu dan Tremaine mengemukakan dua proses tambahan yang melontarkan HVS selain runtuhnya gaya pasang-surut bintang ganda akibat gangguan lubang hitam. Kedua proses tersebut adalah hampir bersinggungannya dua bintang tunggal dan interaksi tiga-benda antara sebuah bintang dan sepasang lubang hitam.

Visualisasi sebuah bintang terlontar dari Awan Magellan Besar (Large Magellanic Cloud atau LMC) - sumber: ESO

Nah, rupanya para peneliti sudah menyibak misteri asal HVS ini. Dalam laporan yang akan segera dipublikasikan oleh Astrophysical Journal Letters astronom Carnegie Institution, Alceste Bonanos dan Mercedes López-Morales, beserta rekan mereka dari Queen’s University Belfast, Ian Hunter dan Robert Ryan, menyimpukan bahwa HE 0437-5439 berasal dari galaksi Awan Magellan Besar (Large Magellanic Cloud atau LMC). Bintang tersebut dilontarkan oleh galaksi tetangga kita ini. Kesimpulan ini diperoleh setelah mengkaji kecepatan, intensitas cahaya – dan untuk pertama kalinya – komposisi kimianya, secara lebih teliti.

Dari sepuluh HVS yang ditemukan sejauh ini, HE 0437-5439 berbeda. Kelas spektrum, kelajuan, dan umur mereka konsisten dengan teori bahwa mereka dilontarkan dari pusat Galaksi. Kita tahu bahwa pusat Galaksi dihuni lubang hitam supermasif. Jika dilihat dari komposisi kimianya, bintang HE 0437-5439 juga menunjukkan bahwa bintang ini berasal dari pusat Galaksi kita. Hanya saja ini tidak masuk akal, sebab bintang tersebut mestinya memerlukan waktu 100 juta tahun untuk mencapai lokasinya yang sekarang, sementara umur HE 0437-5439 hanya 35 juta tahun.


Untuk menjelaskan paradoks umur ini, mereka berpendapat bahwa bintang ini termasuk blue straggler – bintang muda dan masif hasil merger dua bintang bermassa rendah di Galaksi kita. Kemungkinan lain adalah berasal dari LMC. Bintang-bintang di LMC diketahui memiliki kelimpahan unsur yang lebih rendah dibandingkan dengan kebanyakan bintang di Galaksi kita, sehingga kita bisa menentukan apakah suatu bintang termasuk anggota Galaksi kita atau LMC.

HE 0437-5439 bermassa sekitar 9 kali massa Matahari serta menjauhi Bima Sakti dan LMC menuju ruang antargalaksi dengan kecepatan 2.6 km per jam. Ditilik dari laju rotasinya, bintang ini berasal dari sistem bintang ganda. Pasangan bintang ganda ini mungkin pernah lewat dekat dengan lubang hitam yang massanya 1000 kali massa Matahari. Ketika salah satu bintang tertarik oleh lubang hitam, pasangannya lepas dari galaksi asalnya. Penemuan ini menjadi petunjuk pertama bahwa suatu lubang hitam masif ada di suatu tempat di LMC. Kita tunggu saja di mana lubang hitam itu rupanya berada.


Sumber:
Carnegie Institution for Science
Astrophysical Journal, vol. 634, hal. 181 (2005)

Thursday, January 5, 2012

Lubang Hitam Di Galaksi NGC 300

Di alam semesta lubang hitam merupakan obyek yang umum ditemui. Bahkan diperkirakan ada lubang hitam di pusat galaksi Bima Sakti. Kali ini, para peneliti dari University of Sheffield berhasil menemukan sebuah lubang hitam yang berasal dari akhir kehidupan bintang.

Lubang hitam yang baru dideteksi ini memiliki massa sekitar 15 kali massa Matahari dan berada pada jarak yang sangat jauh. Lebih jauh dari lubang hitam terjauh yang telah diketahui. Tak hanya itu, lubang hitam ini ditemukan memiliki pasangan sebuah bintang yang tak lama lagi akan mengakhiri hidupnya sebagai lubang hitam juga.

Akhir Kehidupan Bintang Sebagai Lubang Hitam

Lubang hitam yang berasal dari akhir kehidupan bintang ini biasanya sangat rapat, dan terdiri dari puing-puing keruntuhan bintang yang sangat masif. Massa lubang hitam yang terbentuk bisa mencapai kisaran 20 massa Matahari. Lubang hitam tersebut berbeda dengan lubang hitam yang sering ditemukan di pusat galaksi, yang memiliki massa jutaan sampai milyaran kali massa Matahari.

Galaksi spiral NGC 300, lokasi lubang hitam yang baru ditemukan. Kredit : ESO

Di Bima Sakti, massa terbesar dari lubang hitam yang berasal dari akhir kehidupan bintang hanya 10 massa Matahari. Dan lubang hitam yang ada di luar Galaksi Bima Sakti ada yang ditemukan memiliki massa lebih dari 15 massa Matahari. Dengan demikian lubang hitam yang baru saja dideteksi oleh Very Large Telescope milik ESO merupakan lubang hitam dengan massa terbesar kedua yang diketahui. Khususnya untuk lubang hitam yang berasal dari akhir masa kehidupan bintang.

Lubang hitam baru tersebut ditemukan berada di galaksi spiral NGC 300, pada jarak 6 juta tahun cahaya dari Bumi. Yang menarik, ia
merupakan lubang hitam yang berasal dari akhir kehidupan bintang yang berhasil dideteksi di luar lingkungan galaktik kita yakni Local Group.

Lubang hitam baru ini juga ternyata berasal dari bintang berpasangan atau bintang ganda. Pasangannya berupa bintang Wolf-Rayet, yang massanya juga sekitar 20 massa Matahari. Bintang Wolf Rayet tersebut juga mendekati masa akhir hidupnya dan melontarkan lapisan terluarnya sehingga membentuk selubung yang melingkupi bintang sebelum akhirnya meledak sebagai supernova, sedangkan bagian inti bintang Wolf Rayet tersebut akan menyalami penyusutan dan keruntuhan membentuk lubang hitam.

Lubang hitam Dan Pasangannya

Pada tahun 2007, instrumen sinar-X milik NASA yang dipasang pada Observatorium Swift melakukan pencarian pada area disekeliling sumber sinar-X yang sangat terang di NGC 300 yang ditemukan sebelumnya oleh XMM-Newton X-ray observatory milik ESA.

Hasilnya, terekam garis emisi yang sangat intens yang terjadi secara berkala. Ini merupakan petunjuk kalau di area tersebut terdapat lubang hitam yang tengah mengintip.
Data yang didapat akhirnya bisa dikonfirmasi setelah dilakukan observasi dengan menggunakan instrumen FORS2 yang dipasang di Very Large Telescope milik ESO. Data baru itu menunjukan keberadaan sebuah lubang hitam bersama bintang Wolf Rayet sebagai bintang pasangan. Tak hanya itu, keduanya tampak sedang berdansa mengelilingi satu sama lainnya layaknya dansa waltz dengan periode 32 jam. Dalam observasi tersebut, tampak juga lubang hitam sedang menarik materi dari bintang Wolf Rayet saat keduanya saling mengorbit.

Kondisi keduanya yang demikian justru memberikan sebuah gambaran baru keintiman bintang berpasangan. Sayangnya bagaimana proses terbentuknya sistem bintang ganda yang dmeikian kuat ikatannya masih menjadi misteri.

Dari hasil pengamatan sistem tersebut, para astronom mendapatkan hubungan antara massa lubang hitam dan senyawa kimia di galaksi. Yang tampak adalah, lubang hitam yang sangat masif cenderung ditemukan pada galaksi kecil yang mengandung sedikit elemen berat. Sementara pada galaksi besar yang kaya dengan elemen berat seperti halnya Bima Sakti, hanya mampu membentuk lubang hitam bermassa kecil. Diyakini, tingginya konsentrasi elemen kimia berat mempengaruhi evolusi bintang masif. Dalam hal ini meningkatkan jumlah materi dilepaskan sehingga menghasilkan lubang hitam kecil saat puing-puingnya mengalami keruntuhan.

Dalam waktu kurang dari satu juta tahun, bintang Wolf Rayet akan meledak sebagai supernova dan intinya akan menjadi lubang hitam. Dan jika sistem ini selamat dari ledakan kedua, maka kedua lubang hitam itu akan bergabung dan memancarkan sejumlah besar energi dalam bentuk gelombang gravitasi. Tapi penggabungan keduanya menjadi satu lubang hitam masih akan membutuhkan waktu sekitar beberapa milyar tahun lagi.

Penelitian ini menunjukkan keberadaan sistem seperti ini memang ada. Bahkan sistem yang kedua lubang hitamnya sudah bergabung pun bisa dideteksi melalui jejak gelombang gravitasinya seperti LIGO atau Virgo.

Sumber : ESO

Friday, December 30, 2011

CFBDSIR 1458+10, Pasangan Katai Coklat Terdingin

Seperti apakah bintang yang sangat dingin? Apakah bintang yang sangat dingin itu sedingin bayangan manusia ataukah sesungguhnya masih “cukup” panas? Pengamatan dengan menggunakan teleskop Teleskop 10-meter Keck II dan Teleskop 3,6 meter Canada-France-Hawaii di Mauna Kea, Hawai‘i, serta Very Large Telescope (VLT) milik ESO di Chille berhasil melihat kandidat baru dari bintang katai coklat paling dingin.


Ilustrasi pasangan katai coklat CFBDSIR 1458+10. Kredit : ESO/L. Calçada


Bintang katai coklat sering disebut juga bintang gagal, karena bintang yang satu ini tidak memiliki massa yang cukup supaya gravitasi dapat memicu terjadinya reaksi nuklir di bintang. Dengan kata lain si bintang katai coklat tidak memiliki pembakaran di dalam dirinya untuk menjadi sebuah bintang namun ia pun bukan planet.

Bintang katai coklat juga merupakan “tautan yang hilang” antara planet gas raksasa seperti Jupiter dan bintang katai merah, yang merupakan bintang terkecil dengan massa paling rendah dari Bintang. Bintang katai coklat pertama ditemukan di tahun 1995 yakni Gliese 229B, dan sampai saat ini sudah ratusan yang ditemukan

Dengan massa, luminositas dan temperatur yang sedemikian rendah, bintang katai coklat bertindak sebagai laboratorium pengetahuan untuk dapat memahami planet gas panas maupun proses pembentukan bintang yang berakhir dini. dalam penggolongan katai coklat, saat ini katai T merupakan bintang katai coklat dengan temperatur terendah berkisar antara 600 – 1400 K, didominasi oleh molekul air dan metana dan memiliki proses atmosferik seperti Jupiter.  Kemiripan inilah yang mendorong para peneliti untuk terus mencari obyek yang lebih ekstrim lagi, terutama untuk mengisi gap / kekosongan antara katai T dan planet gas raksasa.
Tampaknya gap itu bisa terisi dengan jenis katai coklat yang baru saja ditemukan oleh Michael Liu dkk.

Bintang katai coklat yang ditemukan melalui pengamatan 3 teleskop tersebut berada 75  tahun cahaya dari bumi dan yang lebih menarik obyek tersebut merupakan pasangan bintang ganda.  Pasangan bintang ganda inilah yang menjadi kandidat bintang katai coklat terdingin, dengan temperatur hampir sama dengan secangkir teh panas yang baru dibuat. Temperatur seperti ini mungkin panas bagi manusia, tapi tidak untuk bintang. Ini adalah temperatur yang luar biasa dingin bagi sebuah bintang.

Penemuan Bintang Katai Coklat Ganda CFBDSIR 1458+10

Saat menemukan pasangan katai coklat CFBDSIR 1458+10, Michael Liu dkk cukup terkejut karena obyek tersebut memiliki temperatur yang sangat rendah. Dan mereka semakin terkejut ketika mengetahui kalau bintang katai coklat tersebut merupakan pasangan bintang katai coklat ganda yang memiliki pasangan lebih dingin lagi.

Pasangan bintang CFBDSIR 1458+10 terdiri dari CFBDSIR 1458+10A dan CFBDSIR 1458+10B, dengan bintang B lebih redup dari A. Keduanya mengorbit satu sama lain dengan jarak sekitar 3 kali jarak Matahari-Bumi (150 juta km) dalam periode 30 tahun.

Bintang katai coklat CFBDSIR 1458+10B yang lebih redup ternyata memiliki temperatur ~100º – 150º Celsius.  Obyek ini cukup dingin untuk mulai melintasi garis kabur yang menjadi batas antara bintang kecil yang dingin dan planet besar yang panas. Tak hanya itu, keberadaan pasangan CFBDSIR 1458+10 memicu pertanyaan baru, apakah dibutuhkan sebuah penggolongan kelas spektrum baru yang disebut kelas spektrum Y bagi katai coklat tipe ini.

Tak hanya itu, dengan temperatur yang demikian rendah, CFBDSIR 1458+10B diperkirakan memiliki properti yang berbeda dari bintang katai coklat yang sudah dikenal saat ini dan justru memiliki kemiripan dengan planet gas raksasa. Bahkan diyakini CFBDSIR 1458+10B memiliki awan air di atmosfernya.

Pasangan unik CFBDSIR 1458+10 pertama kali ditemukan sebagai pasangan ganda dengan menggunakan Sistem Laser Guide Star (LGS) Adaptive Optics pada teleskop Keck II Telescope di Hawaii. Setelah itu penentuan jarak pasangan tersebut dilakukan dengan menggunakan kamera inframerah yang dipasang pada teleskop Canada–France–Hawaii, di Hawaii. Dan akhirnya VLT milik ESo digunakan untuk mempelajari spektrum inframerah obyek dan pengukuran temperatur obyek.

Pencarian obyek dingin sudah menjadi topik yang aktif di astronomi. Teleskop ruang angkasa Spitzer juga baru-baru ini mengidentifikasi 2 obyek yang sangat redup dan bisa jadi menjadi pesaing bintang katai coklat paling dingin meskipun temperaturnya belum benar-benar dihitung. Masih dibutuhkan juga pengamatan lanjutan bagi CFBDSIR 1458+10B agar dapat diketahui properti dan karakteristiknya untuk dipelajari lebih lanjut.

sumber: langitselatan.com

Wednesday, December 21, 2011

Planet Baru Di Pastikan Memiliki Air

GJ1214b,



GJ1214b,kelas planet baru yang ditemukan pertama kali pada 2009 diketahui memiliki air, dan para ilmuwan menjulukinya sebagai ‘Waterworld’. Planet tersebut beratmosfir tebal, beruap, dan sangat panas. Ukurannya lebih kecil dari Uranus tapi lebih besar dari Bumi.

Zachory Berta dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CfA) beserta rekan-rekannya melihat keberadaan ‘Waterworld’ dengan teleskop Hubble milik NASA. “GJ1214b tidak seperti planet yang kita ketahui selama ini,” kata Zachory. “Planet ini punya banyak air.”

Para ilmuwan memperkirakan diameter ‘Waterworld’ mencapai 2,7 kali diameter Bumi dan bobotnya hampir tujuh kalinya. Tidak seperti Bumi yang mengorbit pada matahari sekali setahun, ‘Waterworld’ mengorbit pada bintang red-dwarf setiap 38 jam. Planet GJ1214b berjarak 1,3 juta mil (sekitar dua juta km) dari bintang red-dwarf, yang artinya temperaturnya sangat panas yaitu nyaris mencapai 450 derajat Fahrenheit (sekitar 232 derajat celsius).
Penemuan ‘Waterworld’ merupakan hasil dari MEarth Project yang dikepalai oleh David Charbonneau dari CfA. David dan timnya pertama kali menyampaikan hasil studi berjudul “A super-Earth transiting a nearby low-mass star” pada 2009.
Pada 2010, ilmuwan CfA Jacob Bead dan rekan-rekannya menyatakan bahwa mereka telah meneliti atmosfer ‘Waterworld’, dan melaporkan bahwa planet tersebut kemungkinan terbuat dari air. Akan tetapi ada kemungkinan lain –yaitu planet tersebut berselubung kabut, seperti yang menyelubungi bulan milik Saturnus, Titan.
Untuk memastikannya, Zachory dan rekan-rekannya menggunakan Wild Field Camera 3 (WFC3) dari teleskop Hubble untuk mengamati planet saat melintas di depan bintangnya. Cahaya bintang difilter melalui atmosfer planet, sehingga memberi petunjuk terkait komposisi gas yang dimilikinya.
Para ilmuwan lebih condong dengan pernyataan bahwa atmosfir planet tersebut dipadati uap air, bukan kabut. Perhitungan kepadatan planet juga menunjukkan bahwa GJ1214b punya lebih banyak air dibanding Bumi. Ini artinya struktur internalnya sangat berbeda dibanding Bumi.
“Temperatur dan tekanan yang tinggi akan membentuk material-material eksotis seperti ‘es panas’ atau ‘air superfluida’, zat-zat yang sama sekali asing dengan keseharian kita,” kata Berta.
Mengingat jaraknya yang dekat dengan Bumi, besar kemungkinan akan ada observasi lanjutan menggunakan James Webb Space Telescope, yang akan diluncurkan akhir dekade ini. Sementara itu, hasil penelitian Zachory dan rekan-rekannya ini telah diterima untuk dipublikasikan di Astrophysical Journal.

Wednesday, December 14, 2011

Matahari

Matahari bintang terdekat dengan bumi



Pada dasarnya matahari merupakan salah satu bintang yang berada di tata surya dan menjadi pusatnya. Matahari termasuk bintang karena dapat menghasilkan energi cahaya sendiri. Cahaya matahari dibandingkan bintang yang lain terasa lebih cemerlang. Hal itulah yang menyebabkan pada waktu siang hari kita tidak dapat melihat bintang selain matahari.

Matahari adalah bintang terdekat dengan Bumi dengan jarak rata-rata 149.680.000 kilometer (93.026.724 mil). Matahari serta kedelapan buah planet (yang sudah diketahui/ditemukan oleh manusia) membentuk Tata Surya. Matahari dikategorikan sebagai bintang kecil jenis G.

Matahari adalah suatu bola gas yang pijar dan ternyata tidak berbentuk bulat betul. Matahari mempunyai katulistiwa dan kutub karena gerak rotasinya. Garis tengah ekuatorialnya 864.000 mil, sedangkan garis tengah antar kutubnya 43 mil lebih pendek. Matahari merupakan anggota Tata Surya yang paling besar, karena 98% massa Tata Surya terkumpul pada matahari.

Di samping sebagai pusat peredaran, matahari juga merupakan pusat sumber tenaga di lingkungan tata surya. Matahari terdiri dari inti dan tiga lapisan kulit, masing-masing fotosfer, kromosfer dan korona. Untuk terus bersinar, matahari, yang terdiri dari gas panas menukar zat hidrogen dengan zat helium melalui reaksi fusi nuklir pada kadar 600 juta ton, dengan itu kehilangan empat juta ton massa setiap saat.

Matahari dipercayai terbentuk pada 4,6 miliar tahun lalu. Kepadatan massa matahari adalah 1,41 berbanding massa air. Jumlah tenaga matahari yang sampai ke permukaan Bumi yang dikenali sebagai konstan surya menyamai 1.370 watt per meter persegi setiap saat. Matahari sebagai pusat Tata Surya merupakan bintang generasi kedua. Material dari matahari terbentuk dari ledakan bintang generasi pertama seperti yang diyakini oleh ilmuwan, bahwasanya alam semesta ini terbentuk oleh ledakan big bang sekitar 14.000 juta tahun lalu.

Thursday, December 8, 2011

Planet Nomad Sang Pengembara

Pernah dengar yang namanya planet nomad? Ini adalah planet yang tidak mengitari bintang apapun atau seringnya disebut planet mengambang bebas. Dan tampaknya, Galaksi tempat kita berdiam tampaknya dibanjiri planet gelandangan aka planet nomad yang mengembara di angkasa tanpa memiliki bintang induk yang ia kitari.

Planet Nomad Di Bima Sakti

Planet Nomad, si pengembara di alam semesta. kredit : Greg Stewart / SLAC National Accelerator Laboratory

Menurut hasil penelitian terbaru Kavli Institute for Particle Astrophysics and Cosmology (KIPAC), institut gabungan Stanford University dan SLAC National Accelerator Laboratory, diperkirakan terdapat 100000 kali lebih banyak planet nomad di Bima Sakti dibanding bintang.  Jika pengamatan bisa mengkonfirmasi perkiraan jumlah tersebut, maka obyek langit yang merupakan  kelas baru tersebut akan mempengaruhi teori pembentukan planet yang ada saat ini. Tidak hanya itu,  pemahaman manusia mengenai asal usul dan kelimpahan dalam kehidupan pun akan berubah.

Jika planet-planet nomad memiliki ukuran yang cukup besar untuk memiliki atmosfer yang tebal, maka mereka bisa memerangkap panas yang cukup untuk keberadaan bakteri. Meskipun planet nomad tersebut tidak bermandikan kehangatan cahaya bintang, mereka masih bisa menghasilkan panas melalui peluruhan radioaktif internal dan aktivitas tektonik.

Pencarian selama dua dekade terakhir sudah berhasil mengidentifikasi 760 planet di luar Tata Surya, yang hampir semuanya mengorbit sebuah bintang. Tahun lalu, para peneliti berhasil mendeteksi setidaknya selusin planet nomad menggunakan teknik lensa mikro gravitasi. Teknik ini digunakan untuk mencari bintang yang cahayanya difokuskan kembali oleh gravitasi planet yang sedang melintas.

Hasil penelitian ini memberikan bukti setidaknya terdapat dua planet nomas untuk setiap tipe bintang, misalnya bintang deret utama di Bima Sakti. Estimasi yang didapat juga menunjukkan kalau planet nomad bisa mencapai 50000 kali lebih umum.

Apakah Planet Nomad Umum Di Galaksi?

Pertanyaannya sekarang apakah planet nomad ini memang umum ditemukan? Dan untuk bisa mengetahui hal ini, tim KIPAC memperhitungkan tarikan gravitasi di galaksi Bima Sakti, jumlah materi yang tersedia untuk membentuk obyek seperti ini dan bagaimana materi bisa membagi dirinya sendiri membentuk obyek dengan ragam ukuran mulai dari seukuran Pluto sampai dengan yang lebih besar dari Jupiter.  Bukan pekerjaan mudah karena untuk kasus planet nomad ini, tak seorang pun yakin bagaimana planet tersebut bisa terbentuk.

Teori yang dikemukakan adalah sebagian di antara planet-planet nomad ini merupakan planet yang terlontar dari sistem. Hasil penelitia juga mengindikasikan kalau tidak semua planet nomad terbentuk dengan cara dilontarkan keluar dari sistem.

Jadi ketika berbicara tentang planet, maka planet bisa jadi bukan merupakan benda langit yang harus mengelilingi sebuah bintang. Tapi untuk bisa menemukan planet nomad yang lebih kecil, para peneliti masih harus menunggu kehadiran teleskop besar seperti teleskop landas angkasa Wide-Field Infrared Telescope Survey dan teleskop landas Bumi Large Synoptic Survey Telescope yang akan dioperasikan awal tahun 2020.

Masih diperlukan konfirmasi estimasi planet-planet nomad di alam semesta, karena ketika planet-planet nomad tersebut sedang mengembara dan mengalami tabrakan yang menyebabkan tersebarnya kumpulan mikroba dan kemudian tertanam di suatu tempat yang lain.

Wednesday, December 7, 2011

bLogg pertamaku

Pengen posting anime,astronomi dan semua yang aneh-aneh  :)